• News

  • Wisata

Geliat Bali di Masa Pandemi, hingga Kera di Uluwatu Kangen Turis

Tempat pertunjukan Kecak di Uluwati yang ditutup sejak Maret.
Dok: Hendra Pram
Tempat pertunjukan Kecak di Uluwati yang ditutup sejak Maret.

NUSA DUA, NETRALNEWS.COM - Sebelum pandemi Covid-19 Bali merupakan magnet bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berlibur. Namun, sejak Maret hingga Oktober tak ada lagi lalu lalang turis lokal maupun mancanegara di tempat-tempat wisata.

Kuta yang biasanya tampak ramai, seperti kota mati.Toko-toko tutup, termasuk tempat ‘neduh’ restoran cepat saji McDonalds, sudah tutup lebih dulu. Apalagi pasar lokal yang ada di kalasan tersebut.

Fenomena yang sama juga terlihat di kawasan Tanjung Benoa, tempat para turis melakukan aktivitas watersport mulai dari bermain banana boat, jet ski, ski air, dan kegiatan menarik lainnya.

Namun, bergerak ke arah Jimbaran, masih lumayan tampak kehidupan malam terutama di restoran-resotaran yang berjajar di depan pantai Jimbaran. Malam hari sussana ‘agak’sedikit hidup dengan ramainya tamu-tamu yang makan di aneka hidangan seafood di sini.

Seorang tukang jagung bakar di pantai Jimbaran bernamaLalu mengatakan, ia tempat pulang ke Lombok lantaran di Bali sudah tidak bisa lagi jualan jagung bakar. “Syukur alhamdulillah sejak Oktober ini pariwisata dibuka kembali dan saya mulai berdagang lagi di Jimbaran,” ujar Lalu yang juga jualan aneka mainan di pantai Jimbaran,

Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Ida Bagus Purwa Sideman, menyatakan, pariwisata Bali merana dihantam corona. Pelaku usaha pariwisata pun otomatis merasakan dampak luar biasa.

"Ibarat di arena tinju, ini pukulan telak. Tapi, kita harus bangun dan lanjutkan pertandingan ini," ucapnya melalui webinar beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, kunjungan turis menurun drastis pada April dan terus merosot hingga hampir 100% penurunannya dibanding tahun lalu. Tingkat hunian hotel pada Agustus 2020 juga tercatat hanya 3,68%, menurun jauh dari periode yang sama 2019 sebesar 67%.

"Pergerakan ekonomi yang mengandalkan pariwisata di Bali betul-betul terjun bebas. Hotel-hotel anggota kami, termasuk homestay dan pondok wisata, sungguh dalam kondisi kosong saat ini. Perekonomian mandeg," ucapnya.

Salah satuya adalah Pura Uluwatu. Mungkin Anda masih takut untuk mengadakan pejalanan atau wisata ke luar kota. Padahal, seperti di Bali, sebagai tempat wisata telah menerapkan clean, healty, safety, environment ( CHSE), yaitu kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan hidup dalam tempat-tempat wisata untuk memastikan keamanan wisatawan.

“Kita menerapkan protokol kesehatan di sini yang pasti kita wajib pake masker, cuci tangan kalau bisa kita cuci tangan setiap menit, jaga jarak dan jangan lupa selalu pake hand sanitaizer,” tutur pawang kera di pura Uluwatu I kadek Satya Adi Gunawan.
 
Satya menambahkan sejak masa pandemi covid-19 tempat ini tutup pada Maret, dan saat ini pengunjung sudah ada peningkatan.  “Tapi dari September belum terlihat adanya peningkatan dan di tiga bulan setelah telah ada peningkatan. Ini sudah masuk high season dari Agustus nanti sampai Desember."

Ketika Netralnews berkunjung ke Pura Uluwatu, menyaksikan bagaimana pengelola dan petugas kawasan ini begitu menjada disiplin mereka mengikuti semua aturan, mulai mencuci tangan dan menjaga jarak, Bahkan, kain yang digunakan pengunjung cukup sekali pakai dan kemudian dicuci kembali untuk tamu berikutnya.

“Kita menyediakan tempat mencuci tangan di setiap titik, mulai dari pintu masuk di tengah-tengah area kita juga menýediakan dan di pintu luar di atas kita juga menyediakan tempat cuci tangan. Kita akan memperbanyak memasang plang-plang itu, sebelumnya kita juga memasang dan menyediakan tempat cuci tangan tapi karena situasi di sini banyak monyet hal itu kita tidak jalankan sementara mungkin nanti kita akan tambahkan,” tutur Satya.

Begitu diantarkan, di vilanya  petugas memberikan penjelasan mengenai protokol kesehatan dan juga bagaimana hotel ini telah menerapkan clean, healty, safety, environment (CHSE) seperti yang diminta pemerintah, sehingga tamu benar-benar merasa aman dan nyaman selama menginap di sini.



Director of Sales & Marketing Armaterra Villas Bali Michael Bowden Affandy, menjelaskan sebelum ada tamu pihaknya melakukan pembersihan, dalam satu hari dua kali. Begitu juga ketika ada tamu keluar melakukan pembersihan termasuk semua bagian yang disentuh oleh tamu seperti handling door-nya yang sering dipegang para tamu, lalu untuk bath up-nya, water sink-nya yang ada di westafel. Hotel melakukan pembersihan dalam semua area tersebut.

"Konsep kita sendiri kan vila dan  tamu yang kita batasi adalah untuk vila itu sendiri kita ada one bedroom, two bedroom dan three bedroom. Untuk one bedroom itu maksimal hanya untuk empat orang tamu jadi dua orang dewasa dan dua anak itu untuk di one bedroom. Dan untuk two bedroom itu maksimal untuk empat orang dewasa dan empat anak. Untuk three bedroom itu untuk di enam dewasa dan enam anak. Jadi kalau tamu yang ingin berkunjung itu kita maksimalkan segitu aja, tidak bisa tamu lain masuk. Jadi yang menentukan dari kapasitas vilanya," tutur Michael, Rabu, (21/10/2020).

Ia menambahkan kalau secara keseluruhan okupansi  dimaksimalkan di 80 persen dari daya tampung. Tapi jangan khawatir karena konsep vila itu di antara masing-masing vila yang satu dengan vila yang lain tidak berdekatan jadi tamu itu tidak ada berinteraksi dengan tamu lain.

“Kebanyakan memang di era normal, tamu itu lebih banyak di vila itu sendiri dan tidak melakukan aktivitas di luar. Jadi di vila itu kita sudah ada  private pool-nya dan semua fasilitas di situ, jadi tamu tidak ada rasa khawatir untuk itu,” ungkap Michael. 


Editor : Sulha Handayani